Monthly Archives: November 2011

SAMUEL

Dan Samuel makin besar dan Tuhan menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi Tuhan.  Dan Tuhan selanjutnya menampakan diri di Silo, seba Ia menyatakan diri kepada Samuel dangan perantaraan firman-Nya. Dan perkataan Samuel sampai ke seluruh Israel (1 Sam 3:19-4:1)

Samuel, seorang nabi sejati dan namanya mengungkapkan kerinduanya; Samuel artinya “Allah ditinggikan”  Banyak kata yang mengambarkan karaternya : pemberani, setia, kudus, unik. Dan yang terpenting adalah : Samuel memiliki keberanian yang kudus, keberanian yang memampukannya untuk berdiri sendiri bagi Allah dihadapan keimanan yang murtad, bangsa yang memberontak dan raja yang tidak taat.  Imannya membuatnya tidak takut kepada siapa pun, tidak peduli apa pun kedudukan seseorang sebab Keberanian yang kudus diawali oleh kehidupan yang kudus

Sejak kecil, Samuel menunjukan kepada kita bahwa keberanian yang dihasilkan iman bukan sekedar berbicara dalam nama Allah mengenai hal-hal yang umum. Samuel hidup pada masa yang gelap. Kitab Hakim-hakim mengambarkan masa itu sebagai masa ketika setiap orang melakukan apa yang benar dimatanya sendiri, tidak ada seorang pun di Israel yang takut kepada Allah, perang antar suku sering terjadi, penyembahan berhala merajalela dimana-mana dan pada masa itu firman Tuhan jarang serta  penglihatan-penglihatan pun tidak sering (1 Samuel 3:1)  Pada hakekatnya  tidak ada seorangpun yang berbicara bagi Allah dan tidak ada seorang pun yang mencari Allah, ditambah lagi buruknya kehidupan para imam dibawah kepemimpinan imam besar Eli.

Tetapi apa yang dilakukan Samuel, ia mengambil sikap yang berbeda di tengah-tengah situasi dan keadaan seperti dijelaskan diatas, bahkan ketika masih kecil, ia mengecam kedua anak iman Eli melalui perbuatan-perbuatannya,  Tentunya Samuel juga merasakan tekanan yang kuat untuk mengikuti zamannya, tetapi ia memilih taat kepada Allah, tidak peduli apa pun yang dilakukan orang lain, Samuel tetap berjalan bersama Allah.

Pada saat Saul, raja Israel yang pertama, berpaling dari Allah, maka Tuhan mengutus Samuel untuk menemuinya. Pesan yang harus disampaikannya jelas, suatu keberanian yang sejati, ia berbicara bagi Allah, tidak peduli apa akibatnya, inilah perkataanya :

Tuhan telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan Tuhan telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Ny karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu (1 Samuel 13:14)

Samuel dipuji karena imanya, bukan karena kemauannya yang keras. Tetapi karena iman, ia berdiri tegak, sebab ia bertaut kepada Tuhan. Ia menyerahkan hidupnya ke dalam tangan Allah dan berlindung dalam iman. Samuel mengenal Allah melalui pergaulannya dengan Tuhan, hati Tuhan menjadi hatinya.

Kunci kehidupan Samuel adalah pengabdiannya kepada Allah. Ia menyerahkan keseluruhan kehendaknya kepada kehendak Allah, hal ini yang membuat alasan penulis Ibrani mengolongkan sebagai pahlawan iman.

DAUD

Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud, Allah telah menyatakan : Aku telah mendapatkan Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan melakukan segala kehendak-Ku (Kisah 13:22)

Perbuatan-perbuatan Daud yang luar biasa memenuhi kitab 1 Samuel dan 2 Samuel dan nyanyian-nyanyian yang diciptakannya dapat ditemukan dalam kitab Mazmur. Semua raja Israel dan Yehuda dinilai menurut standar yang dibuatnya ketika ia memerintah selama empat puluh tahun.

Yang menjadikan Daud istimewa,  adalah bagaimana ia mengatasi dosanya setelah menyadari apa yang telah dilakukannya. 2 samuel 12;13 menyatakan reaksinya ketika ia mengaku kepada Natan. “ Aku sudah berdosa kepada Tuhan”. Simak permohonannya akan belas kasihan dalam Mazmur yang ditulisnya mengenai peristiwa itu :

Kasihilah aku, ya Allah… Terhadap engkau saja aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu.   Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Jadikan hatiku tahir, ya Allah dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh.                    Janganlah membuang ku dari hadapan-Mu dan jaganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!  Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.   Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk tidak akan Kau-pandang hina, ya Allah (Mazmur 51:3,6,11-14,18-19)

Kita mengenang Daud karena imanya pada waktu ia bangkit melawan Goliat.

“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu “ (1 Samuel 17:45)

Tetapi ternyata Daud memperlihatkan imannya lebih jauh lagi pada waktu ia berjalan dengan membisu melewati Simei tanpa menanggapi kutukannya. Daud tidak mengizinkan para panglimanya membunuh Simei, sebaliknya ia berkata, “Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk; sebab Tuhan yang telah berfirman kepadanya demikian” (2 Samuel 16:11)

Kisah daud berakhir dengan bahagia, Allah mendengar doanya dan menghapus dosanya. Dalam pengampuna Allah, Daud mendapat kenyataan bahwa ia masih memiliki rencana baginya. Daud tetap menjadi raja Israel. Daud memanfaatkan tahun-tahun menjelang kematiannya untuk menyiapkan jalan bagi pewaris tahtanya untuk membangun Bait Allah di Yerusalem, inilah salah satu dari kehendak Allah  yang Daud lakukan pada masa hidupnya, selain mengembalikan tabut Penjanjian ke Yerusalem dan perbuatan-perbuatan iman lainya.

Penulis kitab Ibrani mencantumkan Daud dalam daftar pahlawan iman, walau hanya dalam daftar orang yang tidak sempat diceritakan, itu karena alasan yang kuat. Sebagaimana Musa mendominasi paro yang pertama, Daud mendominasi para yag terakhir dari sejarah yang tertulis dalam Perjanjian Lama.

YEFTA

Lalu Roh Tuhan menghinggapi Yefta; ia berjalan melaui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melaui Mizpa di Gilead dan dari Mizpa di Bilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon. Lalu bernazarlah Yefta kepada Tuhan, katanya : “ Jika engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu kedalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali Lalu Roh Tuhan menghinggapi Yefta; ia berjalan melaui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melaui Mizpa di Gilead dan dari Mizpa di Bilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon. Lalu bernazarlah Yefta kepada Tuhan, katanya : “ Jika engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu kedalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan Tuhan dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran “ ( Hakim 11:29-31)
Kebanyakan dari kita mungkin tidak mengetahui kehidupan Yefta secara rinci meskipun namanya tercantum pada daftar pahlawan iman yang ada dalam Ibrani 11, begitu kita membaca kisah kehidupannya dalam kitab Hakim-hakim pasal 11 dan 12, kita akan mengerti mengapa ia tidak begitu terkenal.
Yefta hidup dalam periode antara Yosua dan Samuel, di zaman hakim-hakim, ayahnya Gilead, seorang anggota suku Manasye yang dihormati. Anak-anak Gilead lainnya mengusir Yefta dari tanah keluarga mereka dan mengatakan kepada Yefta bahwa ia tidak berguna, bahwa ia tidak layak tinggal diantara mereka, tetapi beberapa tahun kemudian, Allah memakainya untuk menyelamatkan seluruh umat itu. Tuhan membuka semua pintu yang tertutup rapat oleh orang lain dan mengangkat orang yang diremehkan ini menjadi seorang pahlawan.
Beberapa saat sebelum berperang melawan orang Amon, Yefta bernazar kepada Tuhan, “ Jika Engkau sunggug-sungguh menyeragkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintuku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi milik Tuhan dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran (hakim 11:30-31). Ketika ia pulang kerumah, yang pertama kali keluar dari pintu depan ternyata puterinya – anak tunggalnya. Alkitab menunjukan bahwa Yefta memenuhi nazarnya dan mepersembahkan puterinya sebagai korban bakaran.
Apakah Allah menghormati nazar Yefta dan merestui pengorban manusia ? Tentu saja tidak ! Yefta sebenarnya tidak perlu membuat janji yang ngawur, Yang Allah butuhkan adalah iman, tampaknya pemahamannya tentang siapa Allah dan apa yang dikehendaki-Nya belum sempurna.
Seandainya ia mengetahui hukum Taurat, ia seharusnya juga mengetahui bahwa ia dapat mempersembahkan korban uang untuk menebus nyawa puterinya. Kitab Imamat pasal dua puluh tujuh, mengatakan perempuan dewasa yang dipersembahkan kepada Tuhan melaui nazar dapat ditebus dengan 30 syikal perak, jika ia remaja dapat ditebus dengan 10 syikal perak. Seluruh bukti menunjukan bahwa Yefta tak pernah menganggapnya sebagai suatu pilihan. Barangkali ia tidak memahami hukum Taurat atau barangkali keangkuhannya merintanginya membatalkan kata-katanya. Pada akhirnya, memenangan yang besar itu berubah menjadi kesedihan yang mendalam sebab putrid tunggalnya mati akibat nazar yang sebetulnya tidak perlu dibuatnya. Bagaimana Allah dapat mengunakan orang semacam ini dan mengapa penulis kitab Ibrani mencantumkannya sebagai pahlawan iman ?
Penulis Kitab Ibrani mencantumkan Yefta dalam daftar pahlawan iman karena alasan yang kuat, yakni Yefta menunjukan pendirian yang berani demi Allah ketika semua orang lain ketakutan.
Ceriteranya, setelah menindas umat Israel selama delapan belas tahun, akhirnya raja Amon meinyatakan kepada Israel syarat-syarat perdamaian. Ia akan menarik mundur pasukannya dan sebagai gantinya ,ia akan mendapat kembali wailayah Israel di tepi timur sungai Yordan, yaitu tanah yang dihuni suku Ruben, Gad dan Manasye, perhatikan jawaban Yefta :
Maka sekarang, Allah Israel, telah merebut milik orang amori, bagi Israel, umat-Nya. Apakah engkau hendak memeiliki pula tanah mereka itu ? Bukankah engkau akan memiliki apa yang diberikan oleh Kamis, allahmu ? Demikianlah kami memiliki segala yang direbut bagi kami oleh Tuhan, Allah kami (Hakim 11:23-24)
Dengan kata lain, Yefta menyatakan, “Tuhan Allah memberikan tanah ini kepada kami dan kami tidak akan mengembalikannya” wilayah yang dimiliki Israel bukan berupa bukit-bukit dan lembah semata-mata, bukan berupa tanah semata-mata. Tetapi berupa warisan yang mereka terima dari Tuhan, Allah telah menjanjikan tanah tersebut kepada mereka selama ratusan tahun sebelumnya dan Allah mengenapi janji-Nya.
Pendirian Yefta mengambarkan definisi iman yang kita temukan pada awal Ibrani 11., ia yakin pada apa yang ia harapkan, pada apa yang tidak dilihatnya.
dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan Tuhan dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran “ ( Hakim 11:29-31)
Kebanyakan dari kita mungkin tidak mengetahui kehidupan Yefta secara rinci meskipun namanya tercantum pada daftar pahlawan iman yang ada dalam Ibrani 11, begitu kita membaca kisah kehidupannya dalam kitab Hakim-hakim pasal 11 dan 12, kita akan mengerti mengapa ia tidak begitu terkenal.
Yefta hidup dalam periode antara Yosua dan Samuel, di zaman hakim-hakim, ayahnya Gilead, seorang anggota suku Manasye yang dihormati. Anak-anak Gilead lainnya mengusir Yefta dari tanah keluarga mereka dan mengatakan kepada Yefta bahwa ia tidak berguna, bahwa ia tidak layak tinggal diantara mereka, tetapi beberapa tahun kemudian, Allah memakainya untuk menyelamatkan seluruh umat itu. Tuhan membuka semua pintu yang tertutup rapat oleh orang lain dan mengangkat orang yang diremehkan ini menjadi seorang pahlawan.
Beberapa saat sebelum berperang melawan orang Amon, Yefta bernazar kepada Tuhan, “ Jika Engkau sunggug-sungguh menyeragkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintuku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi milik Tuhan dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran (hakim 11:30-31). Ketika ia pulang kerumah, yang pertama kali keluar dari pintu depan ternyata puterinya – anak tunggalnya. Alkitab menunjukan bahwa Yefta memenuhi nazarnya dan mepersembahkan puterinya sebagai korban bakaran.
Apakah Allah menghormati nazar Yefta dan merestui pengorban manusia ? Tentu saja tidak ! Yefta sebenarnya tidak perlu membuat janji yang ngawur, Yang Allah butuhkan adalah iman, tampaknya pemahamannya tentang siapa Allah dan apa yang dikehendaki-Nya belum sempurna.
Seandainya ia mengetahui hukum Taurat, ia seharusnya juga mengetahui bahwa ia dapat mempersembahkan korban uang untuk menebus nyawa puterinya. Kitab Imamat pasal dua puluh tujuh, mengatakan perempuan dewasa yang dipersembahkan kepada Tuhan melaui nazar dapat ditebus dengan 30 syikal perak, jika ia remaja dapat ditebus dengan 10 syikal perak. Seluruh bukti menunjukan bahwa Yefta tak pernah menganggapnya sebagai suatu pilihan. Barangkali ia tidak memahami hukum Taurat atau barangkali keangkuhannya merintanginya membatalkan kata-katanya. Pada akhirnya, memenangan yang besar itu berubah menjadi kesedihan yang mendalam sebab putrid tunggalnya mati akibat nazar yang sebetulnya tidak perlu dibuatnya. Bagaimana Allah dapat mengunakan orang semacam ini dan mengapa penulis kitab Ibrani mencantumkannya sebagai pahlawan iman ?
Penulis Kitab Ibrani mencantumkan Yefta dalam daftar pahlawan iman karena alasan yang kuat, yakni Yefta menunjukan pendirian yang berani demi Allah ketika semua orang lain ketakutan.
Ceriteranya, setelah menindas umat Israel selama delapan belas tahun, akhirnya raja Amon meinyatakan kepada Israel syarat-syarat perdamaian. Ia akan menarik mundur pasukannya dan sebagai gantinya ,ia akan mendapat kembali wailayah Israel di tepi timur sungai Yordan, yaitu tanah yang dihuni suku Ruben, Gad dan Manasye, perhatikan jawaban Yefta :
Maka sekarang, Allah Israel, telah merebut milik orang amori, bagi Israel, umat-Nya. Apakah engkau hendak memeiliki pula tanah mereka itu ? Bukankah engkau akan memiliki apa yang diberikan oleh Kamis, allahmu ? Demikianlah kami memiliki segala yang direbut bagi kami oleh Tuhan, Allah kami (Hakim 11:23-24)
Dengan kata lain, Yefta menyatakan, “Tuhan Allah memberikan tanah ini kepada kami dan kami tidak akan mengembalikannya” wilayah yang dimiliki Israel bukan berupa bukit-bukit dan lembah semata-mata, bukan berupa tanah semata-mata. Tetapi berupa warisan yang mereka terima dari Tuhan, Allah telah menjanjikan tanah tersebut kepada mereka selama ratusan tahun sebelumnya dan Allah mengenapi janji-Nya.
Pendirian Yefta mengambarkan definisi iman yang kita temukan pada awal Ibrani 11., ia yakin pada apa yang ia harapkan, pada apa yang tidak dilihatnya.

SIMSON

Kisah kehidupan Simson dapat dilihat dalam kitab Hakim-halim pasal 13 sampai pasal 16. Kelahirannya diberitakan malaikat Tuhan, Allah menjelaskan bahwa anak yang akan lahir ini bukan anak biasa dan sejak hari kelahirannya, Simson harus menjadi nazir Allah, yaitu orang yang dikhususkan bagi Allah dan demi tujuan-Nya. Itu berarti ia tidak boleh minum anggur, makan makanan haram serta memotong rambutnya, Ayah ibu simson meminta bimbingan dari Allah untuk mengetahui bagaimana mereka harus membesarkan anak ini dan Hakim-hakim 13 mengambarkan mereka sebagai hamba-hamba Tuhan yang setia.

Simson adalah salah seorang hakim Israel yang paling terkenal. Simson mempunyai potensi yang besar. Dalam satu pertempuran, ia berkelahi dengan seribu orang dan tanpa bantuan orang lain, ia mengalahkan mereka semua dan dengan tangannya, ia mencabut tiang pintu gerbang kota dan memanggulnya keatas bukit.

Dengan kemampuan alami yang dimilikinya dan urapan khusus yang Allah curahkan atasnya, seharusnya ia dapat menjadi pemimpin/pahlawan terbesar dalam sejarah Israel. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Simson, orang kuat Allah, yang namanya mengungkapkan potensi yang Allah berikan kepadanya, menyia-nyiakan seluruh potensinya. Tampaknya ia tidak pernah menganggap sumpah kenaziranya sebagai sesuatu yang serius. Kemarahan dan gairah seksualnya menguasai hidupnya.

Penulis kitab Ibrani mencantumkan nama Simson, sebab ia memang bertindak dalam iman… setelah kehilangan segalanya. Ketika kekuatanya hilang dan kedua matanya dicungkil, ketika ia tidak menjadi pahlawan Israel lagi, tetapi menjadi bahan tertawaan orang Filistin, barulah ia berseru, Ya Tuhan Allah…”   Penulis kitab Ibrani mengelompokan Simson dengan orang-orang lain “Yang dalam kelemahan mempertoleh kekuatan”

BARAK

Kisah hidupnya dapat dilihat dalam kitab Hakim-hakim pasal 4 dan 5. Ayah barak pasti mempunyai rencana yang besar bagi puteranya ketika ia menamainya “Pedang Tuhan yang berkilauan”, halilintar.

Barak menjalani kehidupannya sesuai namanya. Ia seorang pahlawan Allah yang gagah perkasa. Bersama dengan sepuluh ribu tentara yang berjalan kaki, ia memimpin penyerangan terhadap kereta-kereta besi Sisera, panglima Kanaan itu.  Didepan Barak, Tuhan mengacau-balaukan orang Kanaan sehinga seluruh pasukan mereka binasa.  Sihalilitar Allah tidak berjuang dalam peperangan semata-mata, ia juga memimpin penyerangan di kaki gunung Tabor dan mengejar musuh sampai mereka semua musnah.  Karena itu, aneh jika menjumpai Barak dibalik bayang-bayang orang lain, khususnya di balik bayang-bayang dua orang perempuan, Debora dan Yael.

Sesudah menang dalam peperangan melawan orang Kanaan, Debora dan Barak menyanyikan nyanyian kemenangan yang meliputi bait berikut :

Dalam zaman Yael, kafilah tidak ada lagi dan orang-orang yang dalam perjalanan terpaksa menempuh jalan berbelit-belit.  Penduduk pedusunan diam-diam saja di Israel, ya mereka diam-diam, sampai engkau bangkit, Debora, bangkit sebagai ibu di Israel (Hakim 5:6-7)

Nyanyian ini menjadikan Debora pusat perhatian. Ia menerima penghormatan sebagai orang yang bertanggung jawab untuk memimpin Israel keluar dari kegelapan akibat penghakiman dan kembali kepada Tuhan. Barak tidak pernah mengeluh tentang peran kepemimpinan Debora atau tentang penghormatan yang diterima wanita itu.

Yael, perempuan lainnya, membunuh Sisera, hanya setelah Barak mengacau-balaukan pasukan musuh. Yael dipuji sebagai perempuan yang paling diberkati (Hakim 5:24).  Tidak ada seorang pun yang meyebut Barak sebagai lelaki yang paling diberkati, walaupun ia yang menyebabkan Israel memperoleh kemenangan.

Anehnya, dengan senang hati, barak menerima tempatnya dibalik bayang-bayang. Ia membiarkan orang lain mendapat kemuliaan yang sebetulnya ia juga berhak mendapatkannya. Tetapi ia menerima saja tempat yang lebih rendah itu dengan rendah hati. Kerendahan hati yang sejati berarti hidup dibalik bayang-bayang orang lain tanpa membenci mereka.

Kehidupan Barak memberi kita kesempatan yang sempurna untuk mempelajari kerendahan  hati. Ia menunjukkan kepada kita bagaimana kerendahan hati perlu di dunia nyata ini, Barak mengalami suatu pelajaran yang kita masing-masing harus alami. Kita akan mengalami kebebasan dan sukacita yang besar jika kita dengan rela menentukan pilihan untuk menerima tempat yang rendah, untuk bersikap rendah hati.

Barak, orang yang ditentukan untuk mendapat kemuliaan, adalah salah satu pahlawan yang kurang dikenal yang ada dalam Ibrani 11. Penulis Kitab Ibrani memilih Barak dengan tujuan tertentu.

Gideon

Gideon adalah anak lelaki Yoas, dari suku Manasye, ia mempunyai 70 anak laki-laki dan mempunyai banyak isteri, ia diberi nama “Yerubaal” setelah Menghancurkan mezbah baal dan meruntuhkan tiang berhala.

Kisah hidup Gideon terdapat dalam kitab Hakim-hakim pasal enam hingga pasal delapan, dalam kisah Gideon, kita menemukan jawaban terhadap pertanyaan tentang berapa besarkah iman yang dibutuhkan agar Allah dapat memakai seseorang. Pada masa itu, keadaan begitu buruknya, sehingga umat Isreal meninggalkan rumah mereka dan bersembunyi di gua-gua karena penganiayaan bangsa median. Awal panggilannya, dimulai ketika malaikat Tuhan menemuinya pada saat ia sedang mengirik gandum di tempat pemerasan anggur untuk menghindari pemeriksaan orang Median dan ketika malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Gideon dan berkata “Tuhan menyertai engkau ya pahlawan yang gagah berani (Hakim 6:12), jawab Gideon: “jika Tuhan menyertai kami, mengapa semua ini menimpa kami ?, agaknya Ia telah meninggalkan kami, dimanakah perbuatannya yang ajaib yang diceriterakan oleh nenek moyang kami, ketika mereka berkata, Tuhan telah menuntun kita keluar dari Mesir ? (Hakim 6:13) Perkataan Tuhan selanjutnya sangat mengejutkan “ Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Median, bukankah Aku mengutus engkau ?

Sebelum Gideon menjalankan perintah Tuhan untuk menyelamatkan orang Israel dari penindasan orang Median, tiga kali Gidion meminta tanda dari Allah dan tiga kali pula Allah memenuhi permintaannya. Tanda yang pertama datang sebelum tugas rahasia yang pertama, Tuhan memerintahkannya menebang tiang berhala yang digunakan keluarganya untuk meminta berkat dewa-dewa orang Kanaan. Sebelum Gideon melakukan perintah itu, ia meminta suatu tanda, ia menyajikan roti dan daging dan Tuhan menyentuh serta membakar habis sajiannya. Tanda yang kedua dan ketiga, datang bersamaan. Allah menantang Gideon untuk melakukan tugas yang begitu besar, suatu tugas yang mustahil, ia diperintahkan untuk menyerang pasukan gabungan bangsa Median, Amalek dan bangsa timur lainnya, suatu gabungan pasukan yang begitu besar jumlahnya sehingga mereka tampak bagikan belalang di lembah Yiszrel. Gideon meniup sangkakala dan memanggil suku Manasye, Asyer, Zebulon dan Naftali untuk mempersiapkan diri dengan senjata,tetapi sebelum maju berperang, Gideon berlutut dan menyampaikan permohonan kepada Allah “ Jika engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku seperti yang Kau-firmankan, maka aku akan membentangkan gunting bulu domba di tempat pengirikan, apabila hanya diatas guntingan bulu itu ada embun, tetapi seluruh tanah disitu tinggal kering (Hakim 7:36,37) ini lah permintaan tanda yang kedua. Keesokan harinya setelah Allah berbuat persis seperti yang diminta Gideon sebagai tanda, Gideon pun meminta tanda yang ketiga, tapi kali ini urutannya terbalik yaitu guntingan bulu domba itu tetap kering, sedangkan lantai disekitarnya basah oleh embun dan sekali lagi Tuhan memenuhi permintaannya dan memberi jawaban tanda ketiga yang dimintanya. Gideon meninta dua tanda dengan mengunakan guntingan bulu domba, sangat sederhana tetapi kemudian ia maju berperang demi Allah.

Dalam Alkitab, hanya sedikit orang yang menjalani peperangan sehebat yang dialami Gideon dan pasukan Israel. Ia berangkat ke lembah Yizrel bersama pasukan Israel yang terdiri dari 32.000, dikurangi menjadi 10.000 orang, tetapi sebelum mereka tiba di perkemahan pasukan Median, Tuhan mengecilkan lagi jumlah pasukan itu menjadi 300 orang saja. Ketika Allah menyuruh Gideon mengurangi anak buahnya, ia menaatinya tanpa bertanya dan tanpa meminta tanda lagi, lalu Tuhan memberi kemenangan. Tidak banyak orang yang mau melakukan tindakan yang amat tidak lazim yaitu yang pertama, memusnahkan berhala di wilayah tertetu dan yag kedua hanya segelitir orang yang mau pergi bersama pasukan yang hanya 300 orang untuk berperang melawan pasukan yang berjumlah 12.000 orang. Inilah kenapa penulis kitab Ibrani menempatkan Gideon sejajar dengan para pahlawan iman lainnya sebab Gideon melakukan kedua perintah tersebut disertai iman.

Rahab

Nama Rahab mempunyai arti “Luas” ini mengambarkan luasnya kemurahan hati dan kasih karunia Allah, Nama Rahab dan kisahnya menyakinkan kita bahwa siapa pun dapat meperoleh pengampunan.
Rahab adalah orang terakhir yang akan kita jumpai selain dari tambahan pahlawan iman lainnya di ayat 32. Ia seorang wanita yang mempunyai masa lalu yang kelam. Ada tiga hal yang kurang menguntungkan di dalam hidupnya :
• Ia terlahir sebagai anak bangsa yang belum mengenal Tuhan, nama Allah tidak ada ditengah-tengah bagsanya, lebih-lebih pengetahuan tentang bagaimana cara mengenal Tuhan.
• Ia menetap dalam kota yang Allah anggap terlalu berdosa untuk diselamatkan. Allah tidak hanya memerintahkan Yosua untuk menghancurkan Yerikho, tetapi setelah kota itu hancur, Yosua bersumpah bahwa terkutuklah orang yang bangkit untuk membangun kota itu kembali (Yosua 6:26)
• Ia adalah seorang wanita sundal yang berada dalam kebudayaan yang dikenal karena kemerosotan sosial dan penyembahan berhala.
Walaupun situasi hidup dan keadaan hidupnya seperti tiga hal diatas, Penulis Kitab Ibrani mencantumkannya dalam daftar para pahlawan iman, dikarenakan dengan iman Rahab menyambut orang Israel yang datang untuk mengintai tanah Kanaan. Hal ini karena Rahab pernah mendengar kabar mengenai perbuatan-perbuatan dasyat Allah menolong dan melindungi bagsa Israel dalam membelah laut Teberau dan membinasakan pasukan Mesir, maka ia percaya kepada Allah Israel. Pasal kedua kitab yakobus menempatkannya bersama dengan Abraham sebagai teladan iman yang mengungkapkan diri melalui perbuatan-Nya (Yakobus 2:20-26)
Rahab memainkan peranan penting dalam keberhasilan umat Israel menaklukan tanah Kanaan. Yerikho merupakan kota tertua dan salah satu kota terpenting di wilayah tersebut, karena lokasinya yang strategis maka harus lebih dahulu ditaklukan, karena itu Yosua mengutus kedua pengintai guna memeriksa negeri tersebut, khususnya kota Yerikho, tetapi keberadaan mereka diketahui, raja Yerikho memburu mereka sampai ke rumah Rahab. Rahab tidak menyerahkan kedua pengintai sebaliknya menyembunyikan dan menolong melarikan diri ke bukit. Ia mempertarukan nyawanya bagi kedua orang asing itu sebab ia yakin bahwa Tuhan, Allah ialah Allah di langit diatas dan di bumi dibawah (Yosua 2;11). Pernyataan ini yang membuat Rahab di perhitungkan sebagai pahlawan iman.
Dalam kisah Rahab, kita dapat melihat juga bagaimana kasih karunia Allah bukan hanya mengampuni seseorang, melainkan juga menerimanya kedalam keluarga-Nya. Sesudah nyawanya diselamatkan oleh pasukan Yosua yang menyerbu dan menghancurkan kota itu, ia menjadi bagian dari bangsa Israel. Sementara waktu berjalan, ia menikah dengan seorang anggota suku Yehuda dan melahirkan anak yang dinamai Boas, Boas menikah dengan Ruth yang melahirkan Obed, Obed adalah ayah Isai dan Isai adalah ayan Daud, raja Israel. Seribu tahun kemudian Maria, yang masih garis keturunan raja Daud, keturunan Rahab, melahirkan sang juruslamat
Ketika seorang sundal menjadi bagian dari silsilah juruslamat dunia, mungkin kita hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala dan berkata “ Hanya karena kasih karunia Allah” hal itu terjadi. Sebenarnya hal ini tidak perlu membuat kita terkejut, Allah senang memilih orang yang menurut pikiran orang banyak tidak mungkin dipilih-Nya menjadi bagian dari keluarga-Nya.
Tuhan suka mencari orang yag seperti Rahab yaitu orang yang benar-benar membutuhkan kasih karunia-Nya Supaya Ia dapat memperlihatkan kemurahan hati-Nya yang begitu luas kepada seluruh ciptaannya

Musa

Karena iman maka Musa, setelah dewasa menolak disebut anak putri Firaun,
. karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.
Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.
Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.
Karena iman maka ia mengadakan Paskah dan pemericikan darah, supaya pembinasa anak-anak sulung jangan menyentuh mereka (ay 24-28)
Dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu, orang dengan setia meninggalkan tempat-tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk mengikuti kehendak Allah, diantaranya :
• Abraham meninggalkan Ur-Kasdim untuk pergi ke negeri yang belum pernah dilihatnya.
• Yakub meninggalkan Kanaan untuk mencari kelepasan dari bencana kelaparan.
• Empat ratus tahun kemudian, keturunan Yakub (Kira-kira dua juta orang pada waktu itu )meninggalkan Mesir untuk kembali ke Kanaan.
• Samuel meninggalkan ibunya untuk melayani di Bait Allah.
• Daud meninggalkan keluarganya untuk melayani Saul.
• Yakobus dan Yohanes, Andreas dan Simon meninggalkan bisnis mereka, menjala ikan untuk mengikut Yesus.
• Matius meninggalkan pekerjaannya sebagai pemunggut cukai untuk menjadi murid Yesus.
• Paulus meninggalkan karier yang dijanjikan sebagai rabi untuk menjadi rasul bagi bangsa-bangsa yang belum mengenal Kristus.
Penulis kitab Ibrani berbicara tentang Musa sebelas kali dalam kitab ini. Iman menyebabkan Musa berbeda dari apa yang ditinggalkannya :
Musa meninggalkan banyak sekali hal yang positif sehingga ia memperoleh perlakuan yang negatif hanya demi Allah. Ketika ia menolak disebut anak puteri Firaun, ia harus meninggalkan wanita yang telah dianggapnya sebagai ibunya selama empat puluh tahun. Ia juga meninggalkan nama baik dan kehormatan, nama Mesirnya yang menempatkanya dalam silsilah Firaun. Pada suatu hari kelak, mungkin ia akan memerintah Mesir atau setidak-tidaknya ia akan menikmati kedudukan yang terhormat dan menyenangkan. Ketika ia berpaling dari keluarga kerajaan, itu sama dengan ia meninggalkan masa depan, kekayaan, kesenangan, gaya hidup mewah.
Kehidupan Musa tidak membaik sesudah ia memilih bergabung dengan para budak Ibrani. Ia tak pernah lagi tinggal di Istana. Selama empat puluh tahun di median dan selama empat puluh tahun memimpin umat Israel melitasi jazirah Sinai. Ia tinggal di kemah. Sebagai ganti kesenangan-kesenangan Mesir, ia menerima perlakukaan yang tidak menyenangkan dari orang Mesir maupun dari bangsanya sendiri.
Musa tidak dapat melupakan apa yang dikorbankannya untuk melayani Tuhan. Namanya terus mengingatkannya pada semua yang telah ditinggalkannya. Abraham mendapat nama baru ketika ia mulai melayani Allah, begitu juga Petrus, Matius dan Paulus, tetapi tidak demikian halnya dengan Musa. Puteri Firaun memberikan nama itu ketika ia menemukannya di sungai Nil. “ Musa” merupakan unsur yang umumnya ada dalam nama para Firaun Tuhan dan keturunan mereka. Tuhan tak pernah mengubah nama itu. Tuhan tidak memberikan nama Ibrani yang lebih layak baginya, Nama Abraham menyakinkan Abraham terhadap janji-jani Allah. Nama Petrus dan Paulus mencerminkan panggilan Allah. Tetapi, nama Musa mengingatkan pada semua yang ditinggalkannya untuk hidup bersama dengan dua juta orang yang menyalahkannya karena penderitaan.
Musa meninggalkan banyak hal untuk mengikut Allah, tetapi kita tak pernah mendengar ia menyesal. Umat yang dipimpinnya terus memuntut kembali ke Mesir, tapi tuntutan itu tak pernah keluar dari mulut Musa. Umat terus berpikir tentang sayur bawang yang mereka nikmati di Mesir tanpa mengingat kehidupan mereka sebagai budak, membuat bata tanpa jerami. Musa tak pernah berpikir tentang kesenangan, kekayaan sebagai pangeran Mesir sebab ia terlalu sibuk memandang ke depan. Segala yang dimilikinya di Mesir hanyalah sementara dan hatinya merindukan sesuatu yang kekal.
Musa mengingatkan kita pada pengorbanan yang harus kita lakukan untuk mengikut Kristus. Inilah yang menjadikannya sebagai pahlawan iman.

Yakub

Karena iman maka Yakub, ketika mampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf, lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya

Orang tuanya memberikan nama memegang tumit, berbuat curang atau penipu dan memang Yakub gemar tawar menawar baik terhadap Esau maupun kepada Tuhan

Sejak kelahirannya, Yakub sudah mulai berusaha untuk menjadi anak sulung dengan memegang tumit Esau, didalam hidupnya ia menyiasati kakaknya untuk mendapatkan hak  sulung, menipu ayahnya untuk mendapatkan berkat anak sulung.

Kemudian hari didalam hidupnya, ia pun ditipu ayah mertuanya, putrinya, Dina diperkosa, anak tertuanya, Ruben, tidur dengan salah satu gundiknya. Rahel Isteri yang dikasihinya mati ketika melahirkan anaknya yang kedua, tidak lama setelah itu Yusuf, anak yang dikasihinya dikabarkan mati diterkam binatang buas. Ditengah-tengah semua masalah kehidupannya, Yakub hidup didalam ketakutan kepada kakaknya dan inilah pengakuan iman Yakub :

Lalu bernazarlah Yakub: “ Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang  kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali kerumah bapaku, maka Tuhan akan menjadi Allahku  dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kepersembahkan sepersepuluh kepada-Mu (Kejadian 28:20-22)

Allah memgizinkan percobaan-percobaan, penipuan-penipuan dan sakit hati guna memurnikan hati Yakub, sebab Tuhan mempunyai rencana yang besar bagi hidup Yakub.

Tujuh belas tahun menjelang akhir hidupnya, Yakub mengalami sukacita yang lebih besar dari yang pernah dialami sebelumnya, memanggil Yusuf supaya ia dapat memberkati kedua cucunya, Efraim dan Manasye.  Pada waktu itu, ia telah menyadari betapa hampanya semua itu, sebab itu ia berbicara tentang kesetian Allah dan janji-janji yang diberikan kepada orang yang mengasihi-Nya (Kejadian 48)   Akhir hidupnya, Yakub memberikan kata-kata berkat kepada semua anak-anaknya dan setelah Yakub selesai berpesan, berbaringlah ia dan meninggalah ia dan dikuburkan bersama kaum leluhurnya (Kejadian 49)

Penulis kitab Ibrani mencatat Yakub sebagai pahlawan iman karena masih sempat memberkati kedua cucunya sebelum hari perhentianya tiba.

ISHAK

Karena iman maka Ishak, sambil memandang jauh ke depan, memberikan berkatnya kepada Yakub dan Esau (ay 20)

Tuhan yang dikenal sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub menempatkan Ishak selama-lamanya diantara ayahnya dan anaknya.

Ishak berarti tertawa. Tetapi mempunyai arti namanya jauh lebih dalam daripada itu. Allah memilih nama itu untuk mengingatkan Abraham dan Sara tentang reaksi mereka terhadap kabar bahwa Ishak akan dilahirkan. Mereka tertawa dan semua orang yang ada disekitar mereka juga tertawa, sebab gagasan bahwa seorang anak akan lahir bagi pasangan yang sudah berumur Sembilan puluh tahun ini sungguh-sungguh menggelikan hati, lucu.

Begitu ishak lahir, namanya mengungkapkan kesukacitaan luar biasa yang dirasakan orangtuanya. Semua orang yang mendengar kabar itu tertawa. Mereka ikut merasakan sukacita atas kelahiran yang mustahil tersebut. Sejak saat itu, nama Ishak yang berarti tertawa menjadi sesuatu yang terus mengingatkan setiap orang yang berhubungan dengannya bahwa tidak ada sesuatu pun yag terlalu sukar bagi Allah. Tuhan selalu melakukan yag dikatakan-Nya, Ia selalu menyediakan apa yang dijanjikan-Nya.

Cerita mengenai perjalanan Abraham dan Ishak ke gunung Moria, kebanyakan penjelasan dan pelajaran Alkitab memberi judul episode ini “Abraham diuji” seolah-olah Abrahamlah satu-satunya orang yang imannya diuji di puncak gunung tersebut. Memang Abraham mengalami ujian yang terberat. Manakah yang lebih besar, kasih kepada puteranya atau takut kepada Allah ? Tetapi, coba tempatkan diri kita pada posisi Iskhak sejenak. Ia bukan balita atau kanak-kanak. Kata-kata dalam perjanjian menginsyaratkan bahwa ia seorang remaja yang mungkin setidak-tidaknya berusia tiga belas atau empat belas tahun (buktinya bisa memikul kayu dipundaknya).  Sebagai remaja, ia tahu benar apa yag sedang terjadi ketika ayahnya melingkarkan tali erat-erat ke tubuhnya dan mengikatnya pada kayu di atas mezbah. Ia tidak memerlukan waktu yang lama untuk menyadari bahwa dirinyalah korban bakaran yang dimaksudkan. Bisa saja Ishak dengan sekuat tenaga berusaha menyelamatkan diri, bisa melarikan diri. Ingat Abraham sudah sangat tua, sedangkan Ishak masih muda dan kuat. Mungkin saja ia bisa mengalahkan ayahnya dengan mudah, tetapi ia tidak berbuat demikian, ia tidak melawan, Ishak tahu bahwa diri-nyalah akan yang dijanjikan itu, ayahnya telah berceritera kepadanya bagaimana pada suatu hari ia akan menjadi bangsa yang besar. Ishak menempatkan posisinya diatas mezbah. Ia mempercayai Allah sepenuhnya untuk menyediakan anak domba.

Tantangan besar berikutnya yang muncul dalam hidupnya adalah mencari isteri. Tentunya bukan sembarang perempuan. Ishak adalah anak pertama dari seluruh bangsa yang baru. Karena itu, isterinya haruslah perempuan yang mengasihi Tuhan. Cara yag dipilihnya untuk menghadapi tantangan ini kedengarannya aneh bagi telinga kita yang hidup pada zaman modern. Ia tidak merencanakan mencari perempuan yang sempurna, sebaliknya ia menantikan Allah menyediakan. Salah seorang pelayan ayahnya pergi ke kampung halaman Abraham yaitu kota Haran dan menemukan Ribkah.  Ketika gadis itu dibawa kehadapan Ishak, ia segera menikahinya.  Alkitab mencatat bahwa Ishak mengasihi Ribkah. Allah menyediakan dan Ishak menerima apa yang disediakan-Nya sebagai yang terbaik.

Dua puluh tahun kemudian, Ishak dan Ribkah mengalami situasi yang sama dengan apa yang dialami Abraham dan sara. Mereka tidak dapat mempunyai anak.  Bagaimana Ishak menanggulangi situasi ini ? Perhatikan Kejadian 25:21, “ Berdoalah Ishak kepada Tuhan untuk Isterinya, sebab isterinya itu mandul”   menghadapi krisis ini, lalu Ishak berlutut dan berdoa, sekali lagi Allah menyediakan jawaban permohonan doanya.

Sementara waktu berlalu, kelaparan hebat melanda tanah Kanaan. Kelaparan yang sama yang mendorong Abraham beberapa waktu sebelumnya dan Yakub beberapa waktu sesudahnya untuk mengungsi ke Mesir dimana tersedia makanan dan air.   Hal yang paling masuk akal atau paling bijaksana yang harus dilakukan adalah pergi ke barat, ke sungai Nil dan menunggu disana hingga kelaparan berakhir.  Tetapi Ishak tidak melakukan hal yang masuk akal atau bijaksana tersebut, sebaliknya, ia menantikan Allah menyediakan. Tuhan memanggilnya dan menyuruhnya tinggal di Tanah Perjanjian. Memang itulah yang ingin dilakukannya, Allah tidak hanya menyediakan selama kelaparan berlangsung, tetapi Ishak juga menjadi sangat makmur. Tuhan berbuat lebih jauh daripada apa yang diimpikannya.

Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat, sebab ia diberkati Tuhan dan orang itu manjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya (Kejadian 26:12-13)

Kitab Ibrani mengungkapkan kisah pada akhir hidupnya. “Karena iman maka Ishak, sambil memandang jauh ke depan, memberikan berkatnya kepada Yakub dan Esau’ (Ibrani 11:20).  Perhatiakn kata-kata yang diucapkannya ketika berkat kepada Yakub :

Moga-moga Allah yang mahakuasa memberkati engkau, membuat engkau beranak cucu dan membuat engkau menjadi banyak, sehingga engkau menjadi sekumpulan bangsa-bangsa. Moga-moga Ia memberikan kepadamu berkat yang untuk Abraham, kepadmu serta keturunanmu, sehingga engkau memiliki negeri ini yan kaudiami sebagai orang asing, yang telah diberikan Allah kepada Abraham (Kejadian 28:3-4)

Yang mengesankan adalah kenyakinan yag terkandung dalam kata-katanya. Kita tidak mendengar suatu khayalan, melainkan suatu keyakinan mutlak bahwa Allah akan memberikan Tanah Kanaan kepada keturunan Yakub.   Pada suatu hari kelak keluarga kecil ini akan menjadi bangsa yang besar dan melalui bagsa inilah seluruh dunia akan diberkati. Sementara ia menerawang ke masa depan, Ishak tidak bertanya-tanya di dalam hati apakah berkat ini akan menjadi kenyataan.  Dari pengalamannya ia tahu bahwa Allah akan menyediakan, Allah akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya.  Inilah yang membuat Ishak menjadi Pahlawan iman.