Bahan-bahan minyak urapan

Menurut Keluaran 30:22-26, terdapat beberapa bahan yang harus ada dalam hidup kita, agar pengurapan Roh Kudus itu tetap tinggal dan bau harum-Nya terpancar keluar dari diri kita.

Pertama, Mur Tetesan
Mur tetesan adalah getah yang keluar dari belukar yang kecil, rasanya pahit, namun baunya sangat wangi sekali. Bukankah orang Majus datang menyembah Tuhan Yesus dengan membawa persembahan Mur?

Harga Mur sangat mahal karena baunya sangat wangi, biasanya dipakai untuk persiapan penguburan jenasah agar mayatnya berbau harum. Mur walaupun rasanya pahit tetapi baunya harum dan mahal harga.

Bukankah pengurapan Roh Kudus menjadikan kehidupan kita berbau harum terutama di hadapan Tuhan dan juga di hadapan sesama kita? Pengurapan Roh Kudus harganya mahal, namun berbau harum.

Apakah maksud dari harga sebuah Mur tetesan?
Dalam Lukas 14:27, Tuhan Yesus berkata mengenai harga suatu Mur Tetesan. “Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Harga suatu pengurapan Roh Kudus yang harus dibayar adalah ‘Menjadi Murid’

Untuk mendapatkan pengurapan Roh Kudus kita harus membayar suatu harga pemuridan. Suatu harga pemuridan adalah pikul salib dan menyangkal diri [daging].

Daging ini tidak suka yang pahit-pahit, daging suka yang manis-manis. Bukankah dosa manis rasanya? Itulah yang disukai daging. Namun setelah manisnya habis maka akibat selanjutnya adalah kerusakan/kehancuran/ kebinasaan.

Harga sebuah pemuridan, pertama-tama rasanya pahit tetapi akibat selanjutnya manis rasanya. Bukankah salib adalah tempat kematian? Saat kita memikul salib, itu berarti kita mati terhadap daging, dosa, ambisi pribadi.

Memang daging tidak suka bila disuruh berdoa, memuji dan menyembah Tuhan, membaca Firman Tuhan. Daging tidak suka bila disuruh mengampuni.

Kedua, Kayu Manis
Kayu manis baunya harum, rasanya enak – manis-manis pahit. Kayu Manis artinya ‘Berdiri Tegak’ bukankah kita hidup di antara angkatan yang bengkok? Rasul Paulus dalam Filipi 2:14-15 memberikan nasehat bagaimana seharusnya kita hidup di dalam pengurapan Roh Kudus di tengah angkatan yang bengkok!

Lakukan segala sesuatu dengan tidak bersunggut-sunggut, ucapkan perkataan-perkataan berkat, pujian syukur dan firman dari mulut kita. Inilah yang dapat membedakan kita dari angkatan yang bengkok. Sebab kata-kata yang keluar dari mulut itu cermin keadaan hati seseorang.

Berdiri tegak artinya tidak beraib dan tidak bernoda. Bentuk nyata [cermin] kehidupan yang berdiri tegak [kayu manis] adalah memperhatikan perkataan yang keluar dari mulut kita. Pengurapan Roh Kudus inilah yang menjadikan kita seorang bintang sejati karena terang kemuliaan Allah terpancar keluar dari dalam hidup kita. Pengurapan Roh Kudus yang memampukan kita untuk berdiri tegak di antara angkatan yang bengkok.

Ketiga, Tebu
Pohon tebu biasanya ditanam di tanah yang berlumpur dan di lingkungan yang kotor. Namun mengapa pohon tebu tetap dapat mengeluarkan rasa yang manis? Pohon tebu menarik makanan dan rasa manisnya dari akar dan batang. Bukankah Tuhan Yesus berkata bahwa Dia pokok dan kita adalah carang-carang-Nya [Yohanes 15]

Pengurapan Roh Kudus memberikan rasa manis ketika kita mau tinggal di dalam Yesus dan firman-Nya tinggal di dalam kita [Yohanes 15:7]

Kehidupan yang intim dengan Tuhan, adalah salah satu bahan untuk mempertahankan pengurapan kemuliaan Allah tetap tinggal di dalam kita. Keintiman dengan Tuhan selama 24 jam sehari hidup dalam hadirat-Nya, membuat kita tetap memberikan rasa manis bagi Tuhan dan sesama kita, sekalipun kita hidup dalam lingkungan yang kotor dan berlumpur.

Jangan ada yang dapat merusak hubunganmu dengan Tuhan, tetaplah intim dengan-Nya. Dan di sanalah kekuatan pengurapan Roh Kudus yang dapat membawa kita menjadi ‘Umat Pemenang’.

Keempat, Kayu Teja
Kayu Teja mengandung arti “Menyembah, Sujud dengan Tersungkur” kayu teja biasanya tumbuh di tempat-tempat yang tinggi. Pengurapan Roh Kudus itu datang ketika kita belajar hidup dalam penyembahan dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Bukankah Musa dipenuhi dengan pengurapan yang dahsyat [kemuliaan Allah] ketika ia naik ke atas gunung?

Berada di tempat tinggi berarti kita melihat seperti halnya Tuhan melihat. Kita melihat dengan cara pandang Allah. Kita melihat di tempat kediaman Allah. Ketika kita berada di tempat yang tinggi maka kita melihat setiap kesulitan yang nampaknya besar menjadi lebih kecil bahkan sangat kecil, dan dapat diatasi karena pengurapan itu yang memberikan kekuatan dan kemenangan yang gilang gemilang!

Kelima, Minyak Zaitun
Minyak zaitun bahan sebagai bahan untuk ‘menyatukan’ seluruh bahan-bahan untuk minyak urapan. Pengurapan Roh Kudus akan tinggal tetap ketika Ia memiliki sebuah tempat yang bernama “Kesatuan [unity]”

Hidup dalam kesatuan adalah kehidupan tanpa kebencian, tanpa balas dendam dan rasa bermusuhan. Kehidupan dalam kesatuan adalah kehidupan dalam belas kasihan, di sana ada pengampunan, tidak ada penghukuman.

Pengurapan Roh Kudus [kemuliaan Allah] harus dipelihara dan disediakan tempatnya, agar Ia dapat tinggal tetap. Dan itu memerlukan bahan-bahan yaitu:

Kita menyediakan Mur Tetesan, Membayar harga pemuridan [pikul salib dan menyangkal diri] untuk menjadi ‘Murid’

Kita menyediakan Kayu Manis, Berdiri Tegak dalam kebenaran, hidup dengan ucapan syukur, dan perkataan berkat, hidup dalam kekudusan.

Kita menyediakan Tebu, tinggal di dalam hadirat-Nya terus menerus

Kita menyediakan Kayu Teja, hidup dalam penyembahan dan kerendahan hati.

Kita menyediakan Minyak Zaitun, hati yang penuh dengan belas kasihan sehingga dapat menciptakan ‘Kesatuan’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>