Ketika tekanan muncul

Apa yang membuat apel kelihatan lezat ? tentu saj kulitnya yang mengkilap.  Namun apa sebenarnay yang membuatnya terasa lezat ? Sari buah dan isinya. Itulah “karater” sebuah apel yang sebenarnya.

Saya mengetahui hal itu ketika meyaksikan ibu saya membuat saus apel. Dengan alat tumbuk dari katu, ibu menggencet apel yang sudah lunak dikukus dengan saringan dan menampung sarinya dalam mangkok, sampai yang tertinggal pada saringan itu hanyalah kulitnya yang kusam. Meski demikian, rasa saus apelnya sangat enak !

Allah memakia tekanan hidup untuk menunjukan karater serupa Kristus yang indah dari dalam diri kita.  Pendderitaan (Yang dalam bahasa Yunani berarti “tekanan”) juga membuat kita sadar akan kecendungan kita untuk berbuat dosa dan melihat sifat dosa sesungguhnya, yakni buruk dan kusam. Di bawah tekanan, dosa ketamakan, egoisme, nafsu, dan kesombongan, mulai kita sadari.

Tekanan dari luar maupun dari diri sendiri adalah kenyataan dari dunia yang sudah jatuh dalam dosa.  Allah mengatur seberapa berat dan lamanya tekanan itu agar kita dapat mengenali, mengakui dan melepaskan “kulit” luar yag meredupkan karater Kristus dalam diri kita.

Tida ada orang yang mau menderita. Namun jika penderitaan dialami, Roh Kudus akan memakainya untuk menciptakan ketekunan, tahan uji dan pengharapan di dalam diri kita (Roma 5:3-4)

- Dennis J. De Hann-

Masalah kehidupan

Pengkotbah : Pdp Eddy Yonathan

Pesan Gembala Pembina kita katakan untuk menjalani tahun 2012 ini, kita jangan takut kalau memang tahun ini akan begitu banyak goncangan, justru Tuhan akan memberikan multiflikasi dan promosi ditengah goncangan yang ada, percaya mujizat masih ada untuk kita semua dan ditahun 2012 ini, Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya jauh melebihi apa yang kita alami diwaktu yang sudah. Demikian kata gembala Pembina kita di Jakarta.

Multiflikasi dan promosi

Pengkotbah : Pdp Eddy Yonathan

Tahun 2011 adalah tahun multiplikasi dan tahun promosi serta mujizat masih ada, inilah pesan Tuhan melalui gembala Pembina kita, Pdt Niko Nyotoraharjo yang merupakan visi kita di tahun 2011 ini. Tema Firman Tuhan untuk awal tahun ini adalah MMP yaitu singkatan dari mujizat, multiplikasi dan promosi, yang kita ambil dari bacaan Injil Lukas.

Waktu hampir tiba di yerikho, ada seorang buta yang duduk dipinggir jalan dan mengemis. Waktu orangbitu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: “Apa itu?”Kata orang kepadanya: “Yesus orang Nazaret lewat”Lalu ia berseru: “Yesus, Anak Daud,kasihanilah aku!”Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru:”Anak Daud, kasihanilah aku!”Lalu yesus berhenti dan menyuruh orang itu kepada-Nya dan ketika ia berada di dekat-Nya, Yesus beertanya kepadanya :“Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” jawab orang itu: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!”Lalu kata Yesus kepadanya : “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!”Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah (Lukas 18:35-43)

Perkenanan Tuhan

Pengkotbah : Pdp Eddy Yonathan

Saudara yang dikasihi Tuhan, tahun 2011 sebagai tahun multifilkasi dan promosi sudah kita lalui, sekarang kita sudah memasuki tahun 2012, visi gereja kita untuk tahun ini adalah tahun perkenanan Tuhan, tetapi buka berarti multiflikasi dan promosi sudah tidak berlaku lagi, Pdt.Dr. Niko Nyotoraharjo, gembala Pembina kita katakan tahun 2012 adalah tahun mulitiflikasi dan promosi karena perkenanan Tuhan, jadi ada hubungan keterikatan antara tahun 2011 yang sudah kita lalui dengan tahun 2012 yang akan kita jalani.
Menurut saya, kalau tahun 2011, multiflikasi dan promosi itu harus kita cari, kita capai, kita dapatkan, tetapi tahun 2012, multiplikasi dan promosi itu didapat karena Tuhan memperkenankannya. Saya cari dalam kamus bahasa Indonesia apa yang dimaksud dengan kata kenan, disitu tertulis menyetujui, mengizinkan, menyukai, jadi tahun 2012 ini multiplikasi dan promosi itu ada karena Tuhan menyetujui, Tuhan mengizinankan serta Tuhan menyukainya.
Saudara yang dikasihi Tuhan, ada banyak akar kata kenan didalam Alkitab, kali ini kita akan sheringkan hubungan-hubungan perkenanan Tuhan. Ada beberapa yang saya catat disini :

1. Perkenanan Tuhan berhubungan dengan keselamatan

Keunikan Mazmur 118

Keunikan Mazmur 118
• Mzm 118 adalah pasal yang terletak di tengah-tengah Alkitab.
• Mzm 118 diapit oleh Mzm 117 (pasal terpendek di dalam Alkitab) dan Mzm 119 (pasal terpanjang di dalam Alkitab).
• Jumlah pasal sesebelum dan sesudah Mzm 118 adalah sama, yakni ada 594 pasal sebelum Mzm 118 dan ada 594 pasal sesudah Mzm 118. (Keterangan: keseluruhan pasal di dalam Alkitab berjumlah 1189 pasal. Jadi 594 pasal + Mzm 188 + 594 pasal = 1189 pasal). Tentang informasi Kitab, Pasal dan Ayat KLIK ini: Kitab, Pasal, Ayat.
• Di luar Mzm 188, keseluruhan pasal berjumlah 1188 (perhatikan angka ini).
• Ternyata Mzm 118:8 adalah ayat yang terletak di tengah-tengah Alkitab.
• Sekarang, apa isi Mzm 118: 8 itu? Ini: “LEBIH BAIK BERLINDUNG KEPADA TUHAN DARI PADA PERCAYA KEPADA MANUSIA”.

SAMUEL

Dan Samuel makin besar dan Tuhan menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi Tuhan.  Dan Tuhan selanjutnya menampakan diri di Silo, seba Ia menyatakan diri kepada Samuel dangan perantaraan firman-Nya. Dan perkataan Samuel sampai ke seluruh Israel (1 Sam 3:19-4:1)

Samuel, seorang nabi sejati dan namanya mengungkapkan kerinduanya; Samuel artinya “Allah ditinggikan”  Banyak kata yang mengambarkan karaternya : pemberani, setia, kudus, unik. Dan yang terpenting adalah : Samuel memiliki keberanian yang kudus, keberanian yang memampukannya untuk berdiri sendiri bagi Allah dihadapan keimanan yang murtad, bangsa yang memberontak dan raja yang tidak taat.  Imannya membuatnya tidak takut kepada siapa pun, tidak peduli apa pun kedudukan seseorang sebab Keberanian yang kudus diawali oleh kehidupan yang kudus

Sejak kecil, Samuel menunjukan kepada kita bahwa keberanian yang dihasilkan iman bukan sekedar berbicara dalam nama Allah mengenai hal-hal yang umum. Samuel hidup pada masa yang gelap. Kitab Hakim-hakim mengambarkan masa itu sebagai masa ketika setiap orang melakukan apa yang benar dimatanya sendiri, tidak ada seorang pun di Israel yang takut kepada Allah, perang antar suku sering terjadi, penyembahan berhala merajalela dimana-mana dan pada masa itu firman Tuhan jarang serta  penglihatan-penglihatan pun tidak sering (1 Samuel 3:1)  Pada hakekatnya  tidak ada seorangpun yang berbicara bagi Allah dan tidak ada seorang pun yang mencari Allah, ditambah lagi buruknya kehidupan para imam dibawah kepemimpinan imam besar Eli.

Tetapi apa yang dilakukan Samuel, ia mengambil sikap yang berbeda di tengah-tengah situasi dan keadaan seperti dijelaskan diatas, bahkan ketika masih kecil, ia mengecam kedua anak iman Eli melalui perbuatan-perbuatannya,  Tentunya Samuel juga merasakan tekanan yang kuat untuk mengikuti zamannya, tetapi ia memilih taat kepada Allah, tidak peduli apa pun yang dilakukan orang lain, Samuel tetap berjalan bersama Allah.

Pada saat Saul, raja Israel yang pertama, berpaling dari Allah, maka Tuhan mengutus Samuel untuk menemuinya. Pesan yang harus disampaikannya jelas, suatu keberanian yang sejati, ia berbicara bagi Allah, tidak peduli apa akibatnya, inilah perkataanya :

Tuhan telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan Tuhan telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Ny karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu (1 Samuel 13:14)

Samuel dipuji karena imanya, bukan karena kemauannya yang keras. Tetapi karena iman, ia berdiri tegak, sebab ia bertaut kepada Tuhan. Ia menyerahkan hidupnya ke dalam tangan Allah dan berlindung dalam iman. Samuel mengenal Allah melalui pergaulannya dengan Tuhan, hati Tuhan menjadi hatinya.

Kunci kehidupan Samuel adalah pengabdiannya kepada Allah. Ia menyerahkan keseluruhan kehendaknya kepada kehendak Allah, hal ini yang membuat alasan penulis Ibrani mengolongkan sebagai pahlawan iman.

DAUD

Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud, Allah telah menyatakan : Aku telah mendapatkan Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan melakukan segala kehendak-Ku (Kisah 13:22)

Perbuatan-perbuatan Daud yang luar biasa memenuhi kitab 1 Samuel dan 2 Samuel dan nyanyian-nyanyian yang diciptakannya dapat ditemukan dalam kitab Mazmur. Semua raja Israel dan Yehuda dinilai menurut standar yang dibuatnya ketika ia memerintah selama empat puluh tahun.

Yang menjadikan Daud istimewa,  adalah bagaimana ia mengatasi dosanya setelah menyadari apa yang telah dilakukannya. 2 samuel 12;13 menyatakan reaksinya ketika ia mengaku kepada Natan. “ Aku sudah berdosa kepada Tuhan”. Simak permohonannya akan belas kasihan dalam Mazmur yang ditulisnya mengenai peristiwa itu :

Kasihilah aku, ya Allah… Terhadap engkau saja aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu.   Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Jadikan hatiku tahir, ya Allah dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh.                    Janganlah membuang ku dari hadapan-Mu dan jaganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!  Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.   Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk tidak akan Kau-pandang hina, ya Allah (Mazmur 51:3,6,11-14,18-19)

Kita mengenang Daud karena imanya pada waktu ia bangkit melawan Goliat.

“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu “ (1 Samuel 17:45)

Tetapi ternyata Daud memperlihatkan imannya lebih jauh lagi pada waktu ia berjalan dengan membisu melewati Simei tanpa menanggapi kutukannya. Daud tidak mengizinkan para panglimanya membunuh Simei, sebaliknya ia berkata, “Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk; sebab Tuhan yang telah berfirman kepadanya demikian” (2 Samuel 16:11)

Kisah daud berakhir dengan bahagia, Allah mendengar doanya dan menghapus dosanya. Dalam pengampuna Allah, Daud mendapat kenyataan bahwa ia masih memiliki rencana baginya. Daud tetap menjadi raja Israel. Daud memanfaatkan tahun-tahun menjelang kematiannya untuk menyiapkan jalan bagi pewaris tahtanya untuk membangun Bait Allah di Yerusalem, inilah salah satu dari kehendak Allah  yang Daud lakukan pada masa hidupnya, selain mengembalikan tabut Penjanjian ke Yerusalem dan perbuatan-perbuatan iman lainya.

Penulis kitab Ibrani mencantumkan Daud dalam daftar pahlawan iman, walau hanya dalam daftar orang yang tidak sempat diceritakan, itu karena alasan yang kuat. Sebagaimana Musa mendominasi paro yang pertama, Daud mendominasi para yag terakhir dari sejarah yang tertulis dalam Perjanjian Lama.

YEFTA

Lalu Roh Tuhan menghinggapi Yefta; ia berjalan melaui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melaui Mizpa di Gilead dan dari Mizpa di Bilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon. Lalu bernazarlah Yefta kepada Tuhan, katanya : “ Jika engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu kedalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali Lalu Roh Tuhan menghinggapi Yefta; ia berjalan melaui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melaui Mizpa di Gilead dan dari Mizpa di Bilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon. Lalu bernazarlah Yefta kepada Tuhan, katanya : “ Jika engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu kedalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan Tuhan dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran “ ( Hakim 11:29-31)
Kebanyakan dari kita mungkin tidak mengetahui kehidupan Yefta secara rinci meskipun namanya tercantum pada daftar pahlawan iman yang ada dalam Ibrani 11, begitu kita membaca kisah kehidupannya dalam kitab Hakim-hakim pasal 11 dan 12, kita akan mengerti mengapa ia tidak begitu terkenal.
Yefta hidup dalam periode antara Yosua dan Samuel, di zaman hakim-hakim, ayahnya Gilead, seorang anggota suku Manasye yang dihormati. Anak-anak Gilead lainnya mengusir Yefta dari tanah keluarga mereka dan mengatakan kepada Yefta bahwa ia tidak berguna, bahwa ia tidak layak tinggal diantara mereka, tetapi beberapa tahun kemudian, Allah memakainya untuk menyelamatkan seluruh umat itu. Tuhan membuka semua pintu yang tertutup rapat oleh orang lain dan mengangkat orang yang diremehkan ini menjadi seorang pahlawan.
Beberapa saat sebelum berperang melawan orang Amon, Yefta bernazar kepada Tuhan, “ Jika Engkau sunggug-sungguh menyeragkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintuku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi milik Tuhan dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran (hakim 11:30-31). Ketika ia pulang kerumah, yang pertama kali keluar dari pintu depan ternyata puterinya – anak tunggalnya. Alkitab menunjukan bahwa Yefta memenuhi nazarnya dan mepersembahkan puterinya sebagai korban bakaran.
Apakah Allah menghormati nazar Yefta dan merestui pengorban manusia ? Tentu saja tidak ! Yefta sebenarnya tidak perlu membuat janji yang ngawur, Yang Allah butuhkan adalah iman, tampaknya pemahamannya tentang siapa Allah dan apa yang dikehendaki-Nya belum sempurna.
Seandainya ia mengetahui hukum Taurat, ia seharusnya juga mengetahui bahwa ia dapat mempersembahkan korban uang untuk menebus nyawa puterinya. Kitab Imamat pasal dua puluh tujuh, mengatakan perempuan dewasa yang dipersembahkan kepada Tuhan melaui nazar dapat ditebus dengan 30 syikal perak, jika ia remaja dapat ditebus dengan 10 syikal perak. Seluruh bukti menunjukan bahwa Yefta tak pernah menganggapnya sebagai suatu pilihan. Barangkali ia tidak memahami hukum Taurat atau barangkali keangkuhannya merintanginya membatalkan kata-katanya. Pada akhirnya, memenangan yang besar itu berubah menjadi kesedihan yang mendalam sebab putrid tunggalnya mati akibat nazar yang sebetulnya tidak perlu dibuatnya. Bagaimana Allah dapat mengunakan orang semacam ini dan mengapa penulis kitab Ibrani mencantumkannya sebagai pahlawan iman ?
Penulis Kitab Ibrani mencantumkan Yefta dalam daftar pahlawan iman karena alasan yang kuat, yakni Yefta menunjukan pendirian yang berani demi Allah ketika semua orang lain ketakutan.
Ceriteranya, setelah menindas umat Israel selama delapan belas tahun, akhirnya raja Amon meinyatakan kepada Israel syarat-syarat perdamaian. Ia akan menarik mundur pasukannya dan sebagai gantinya ,ia akan mendapat kembali wailayah Israel di tepi timur sungai Yordan, yaitu tanah yang dihuni suku Ruben, Gad dan Manasye, perhatikan jawaban Yefta :
Maka sekarang, Allah Israel, telah merebut milik orang amori, bagi Israel, umat-Nya. Apakah engkau hendak memeiliki pula tanah mereka itu ? Bukankah engkau akan memiliki apa yang diberikan oleh Kamis, allahmu ? Demikianlah kami memiliki segala yang direbut bagi kami oleh Tuhan, Allah kami (Hakim 11:23-24)
Dengan kata lain, Yefta menyatakan, “Tuhan Allah memberikan tanah ini kepada kami dan kami tidak akan mengembalikannya” wilayah yang dimiliki Israel bukan berupa bukit-bukit dan lembah semata-mata, bukan berupa tanah semata-mata. Tetapi berupa warisan yang mereka terima dari Tuhan, Allah telah menjanjikan tanah tersebut kepada mereka selama ratusan tahun sebelumnya dan Allah mengenapi janji-Nya.
Pendirian Yefta mengambarkan definisi iman yang kita temukan pada awal Ibrani 11., ia yakin pada apa yang ia harapkan, pada apa yang tidak dilihatnya.
dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan Tuhan dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran “ ( Hakim 11:29-31)
Kebanyakan dari kita mungkin tidak mengetahui kehidupan Yefta secara rinci meskipun namanya tercantum pada daftar pahlawan iman yang ada dalam Ibrani 11, begitu kita membaca kisah kehidupannya dalam kitab Hakim-hakim pasal 11 dan 12, kita akan mengerti mengapa ia tidak begitu terkenal.
Yefta hidup dalam periode antara Yosua dan Samuel, di zaman hakim-hakim, ayahnya Gilead, seorang anggota suku Manasye yang dihormati. Anak-anak Gilead lainnya mengusir Yefta dari tanah keluarga mereka dan mengatakan kepada Yefta bahwa ia tidak berguna, bahwa ia tidak layak tinggal diantara mereka, tetapi beberapa tahun kemudian, Allah memakainya untuk menyelamatkan seluruh umat itu. Tuhan membuka semua pintu yang tertutup rapat oleh orang lain dan mengangkat orang yang diremehkan ini menjadi seorang pahlawan.
Beberapa saat sebelum berperang melawan orang Amon, Yefta bernazar kepada Tuhan, “ Jika Engkau sunggug-sungguh menyeragkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintuku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi milik Tuhan dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran (hakim 11:30-31). Ketika ia pulang kerumah, yang pertama kali keluar dari pintu depan ternyata puterinya – anak tunggalnya. Alkitab menunjukan bahwa Yefta memenuhi nazarnya dan mepersembahkan puterinya sebagai korban bakaran.
Apakah Allah menghormati nazar Yefta dan merestui pengorban manusia ? Tentu saja tidak ! Yefta sebenarnya tidak perlu membuat janji yang ngawur, Yang Allah butuhkan adalah iman, tampaknya pemahamannya tentang siapa Allah dan apa yang dikehendaki-Nya belum sempurna.
Seandainya ia mengetahui hukum Taurat, ia seharusnya juga mengetahui bahwa ia dapat mempersembahkan korban uang untuk menebus nyawa puterinya. Kitab Imamat pasal dua puluh tujuh, mengatakan perempuan dewasa yang dipersembahkan kepada Tuhan melaui nazar dapat ditebus dengan 30 syikal perak, jika ia remaja dapat ditebus dengan 10 syikal perak. Seluruh bukti menunjukan bahwa Yefta tak pernah menganggapnya sebagai suatu pilihan. Barangkali ia tidak memahami hukum Taurat atau barangkali keangkuhannya merintanginya membatalkan kata-katanya. Pada akhirnya, memenangan yang besar itu berubah menjadi kesedihan yang mendalam sebab putrid tunggalnya mati akibat nazar yang sebetulnya tidak perlu dibuatnya. Bagaimana Allah dapat mengunakan orang semacam ini dan mengapa penulis kitab Ibrani mencantumkannya sebagai pahlawan iman ?
Penulis Kitab Ibrani mencantumkan Yefta dalam daftar pahlawan iman karena alasan yang kuat, yakni Yefta menunjukan pendirian yang berani demi Allah ketika semua orang lain ketakutan.
Ceriteranya, setelah menindas umat Israel selama delapan belas tahun, akhirnya raja Amon meinyatakan kepada Israel syarat-syarat perdamaian. Ia akan menarik mundur pasukannya dan sebagai gantinya ,ia akan mendapat kembali wailayah Israel di tepi timur sungai Yordan, yaitu tanah yang dihuni suku Ruben, Gad dan Manasye, perhatikan jawaban Yefta :
Maka sekarang, Allah Israel, telah merebut milik orang amori, bagi Israel, umat-Nya. Apakah engkau hendak memeiliki pula tanah mereka itu ? Bukankah engkau akan memiliki apa yang diberikan oleh Kamis, allahmu ? Demikianlah kami memiliki segala yang direbut bagi kami oleh Tuhan, Allah kami (Hakim 11:23-24)
Dengan kata lain, Yefta menyatakan, “Tuhan Allah memberikan tanah ini kepada kami dan kami tidak akan mengembalikannya” wilayah yang dimiliki Israel bukan berupa bukit-bukit dan lembah semata-mata, bukan berupa tanah semata-mata. Tetapi berupa warisan yang mereka terima dari Tuhan, Allah telah menjanjikan tanah tersebut kepada mereka selama ratusan tahun sebelumnya dan Allah mengenapi janji-Nya.
Pendirian Yefta mengambarkan definisi iman yang kita temukan pada awal Ibrani 11., ia yakin pada apa yang ia harapkan, pada apa yang tidak dilihatnya.

SIMSON

Kisah kehidupan Simson dapat dilihat dalam kitab Hakim-halim pasal 13 sampai pasal 16. Kelahirannya diberitakan malaikat Tuhan, Allah menjelaskan bahwa anak yang akan lahir ini bukan anak biasa dan sejak hari kelahirannya, Simson harus menjadi nazir Allah, yaitu orang yang dikhususkan bagi Allah dan demi tujuan-Nya. Itu berarti ia tidak boleh minum anggur, makan makanan haram serta memotong rambutnya, Ayah ibu simson meminta bimbingan dari Allah untuk mengetahui bagaimana mereka harus membesarkan anak ini dan Hakim-hakim 13 mengambarkan mereka sebagai hamba-hamba Tuhan yang setia.

Simson adalah salah seorang hakim Israel yang paling terkenal. Simson mempunyai potensi yang besar. Dalam satu pertempuran, ia berkelahi dengan seribu orang dan tanpa bantuan orang lain, ia mengalahkan mereka semua dan dengan tangannya, ia mencabut tiang pintu gerbang kota dan memanggulnya keatas bukit.

Dengan kemampuan alami yang dimilikinya dan urapan khusus yang Allah curahkan atasnya, seharusnya ia dapat menjadi pemimpin/pahlawan terbesar dalam sejarah Israel. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Simson, orang kuat Allah, yang namanya mengungkapkan potensi yang Allah berikan kepadanya, menyia-nyiakan seluruh potensinya. Tampaknya ia tidak pernah menganggap sumpah kenaziranya sebagai sesuatu yang serius. Kemarahan dan gairah seksualnya menguasai hidupnya.

Penulis kitab Ibrani mencantumkan nama Simson, sebab ia memang bertindak dalam iman… setelah kehilangan segalanya. Ketika kekuatanya hilang dan kedua matanya dicungkil, ketika ia tidak menjadi pahlawan Israel lagi, tetapi menjadi bahan tertawaan orang Filistin, barulah ia berseru, Ya Tuhan Allah…”   Penulis kitab Ibrani mengelompokan Simson dengan orang-orang lain “Yang dalam kelemahan mempertoleh kekuatan”

BARAK

Kisah hidupnya dapat dilihat dalam kitab Hakim-hakim pasal 4 dan 5. Ayah barak pasti mempunyai rencana yang besar bagi puteranya ketika ia menamainya “Pedang Tuhan yang berkilauan”, halilintar.

Barak menjalani kehidupannya sesuai namanya. Ia seorang pahlawan Allah yang gagah perkasa. Bersama dengan sepuluh ribu tentara yang berjalan kaki, ia memimpin penyerangan terhadap kereta-kereta besi Sisera, panglima Kanaan itu.  Didepan Barak, Tuhan mengacau-balaukan orang Kanaan sehinga seluruh pasukan mereka binasa.  Sihalilitar Allah tidak berjuang dalam peperangan semata-mata, ia juga memimpin penyerangan di kaki gunung Tabor dan mengejar musuh sampai mereka semua musnah.  Karena itu, aneh jika menjumpai Barak dibalik bayang-bayang orang lain, khususnya di balik bayang-bayang dua orang perempuan, Debora dan Yael.

Sesudah menang dalam peperangan melawan orang Kanaan, Debora dan Barak menyanyikan nyanyian kemenangan yang meliputi bait berikut :

Dalam zaman Yael, kafilah tidak ada lagi dan orang-orang yang dalam perjalanan terpaksa menempuh jalan berbelit-belit.  Penduduk pedusunan diam-diam saja di Israel, ya mereka diam-diam, sampai engkau bangkit, Debora, bangkit sebagai ibu di Israel (Hakim 5:6-7)

Nyanyian ini menjadikan Debora pusat perhatian. Ia menerima penghormatan sebagai orang yang bertanggung jawab untuk memimpin Israel keluar dari kegelapan akibat penghakiman dan kembali kepada Tuhan. Barak tidak pernah mengeluh tentang peran kepemimpinan Debora atau tentang penghormatan yang diterima wanita itu.

Yael, perempuan lainnya, membunuh Sisera, hanya setelah Barak mengacau-balaukan pasukan musuh. Yael dipuji sebagai perempuan yang paling diberkati (Hakim 5:24).  Tidak ada seorang pun yang meyebut Barak sebagai lelaki yang paling diberkati, walaupun ia yang menyebabkan Israel memperoleh kemenangan.

Anehnya, dengan senang hati, barak menerima tempatnya dibalik bayang-bayang. Ia membiarkan orang lain mendapat kemuliaan yang sebetulnya ia juga berhak mendapatkannya. Tetapi ia menerima saja tempat yang lebih rendah itu dengan rendah hati. Kerendahan hati yang sejati berarti hidup dibalik bayang-bayang orang lain tanpa membenci mereka.

Kehidupan Barak memberi kita kesempatan yang sempurna untuk mempelajari kerendahan  hati. Ia menunjukkan kepada kita bagaimana kerendahan hati perlu di dunia nyata ini, Barak mengalami suatu pelajaran yang kita masing-masing harus alami. Kita akan mengalami kebebasan dan sukacita yang besar jika kita dengan rela menentukan pilihan untuk menerima tempat yang rendah, untuk bersikap rendah hati.

Barak, orang yang ditentukan untuk mendapat kemuliaan, adalah salah satu pahlawan yang kurang dikenal yang ada dalam Ibrani 11. Penulis Kitab Ibrani memilih Barak dengan tujuan tertentu.